Peran Strategis Mentor dan Coach Dalam Pelaksanaan Diklat Pola Baru

Lembaga Administrasi Negara sebagai institusi yang diberi wewenang dan tanggungjawab dalam melaksanakan kebijakan kediklatan pada tahun 2015 baru-baru ini telah menerbitkan setidaknya 6 Peraturan Kepala sebagai penjabaran atas amanat Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dari aspek kediklatan.

Peraturan Kepala Tersebut yaitu Perka Lan Nomor 15 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklat Prajabatan CPNS Golongan III. Perka LAN Nomor 16 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklat Prajabatan CPNS Golongan I dan II. Perka LAN Nomor 17 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan Tingkat I. Perka LAN Nomor 18 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan Tingkat II. Perka LAN Nomor 19 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan Tingkat III. Perka LAN Nomor 20 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan Tingkat IV.

Perubahan yang paling mendasar pada penyelenggaraan Diklat Pola Baru ini terletak pada sistem pembelajaran yang berbasis pengalaman (experiencial learning)

Landasan konseptual penyelenggaraan diklat dimulai dari Visi dan Misi Pemerintahan. Melalui Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah Visi tersebut dieksekusi antara lain oleh PNS melalui tugas dan tanggungjawabnya masing-masing.  Agar para PNS mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya secara baik, maka perlu dilakukan pembekalan kepada mereka melalui berbagai pendidikan dan pelatihan tertentu. Dalam Pelaksanaan Diklatpim tingkat I tujuan yang hendak dicapai adalah membentuk kepemimpinan visioner yaitu kemampuan berkolaborasi dengan stakeholder strategis untuk menangani isu nasional strategis, dan memimpin peningkatan kinerja instansinya melalui penetapan visi atau arah kebijakan yang tepat bagi eselon I.

coaching

Diklatpim tingkat II  bertujuan untuk membangun  sosok pemimpin birokrasi yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan strategis. Diklatpim tingkat III bertujuan untuk membentuk sosok pemimpin birokrasi yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam menjabarkan visi dan misi instansi ke dalam program instansi serta memimpin pelaksanaanya. Sedangkan pada pelaksanaan Diklatpim tingkat IV, kompetensi yang ingin dibangun adalah membentuk sosok pemimpin birokrasi yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyusun perencanaan kegiatan instansi serta memimpin pelaksanaanya. Sementara itu pelaksanaan diklat prajabatan menekankan pentingnya pembentukan PNS yang profesional yaitu PNS yang karakternya dibentuk oleh tiga kompetensi yaitu: nilai-nilai dasar profesi PNS, sikap dan perilaku disiplin PNS, dan pengetahuan tentang kedudukan dan perannya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, profesional dalam melayani masyarakat. Dengan demikian penyelenggaraan diklat baik prajabatan maupun kepemimpinan adalah amanat atas UUASN yang saat ini mengalami perubahan mendasar sehingga disebut dengan Diklat Pola Baru. Perubahan yang paling mendasar pada penyelenggaraan Diklat Pola Baru ini terletak pada sistem pembelajaran yang berbasis pengalaman (experiencial learning) di mana peserta dituntut  untuk  mempraktekkan dan mengalami sendiri bagaimana membangun kompetensi yang nantinya dapat diterapkan di tempat kerja. Dalam sistem diklat pola baru ini terdapat keterlibatan peran penting penguji, mentor, coach. Kita akan mencoba menelaah peran penting mentor dan coach ini dalam mencapai keberhasilan pelaksanaan diklat pola baru, khususnya untuk diklat prajabatan dan diklat kepemimpinan tingkat III dan IV.

No Response

Comments are closed.